ROTI GOSONG

Selasa, 01 Januari 2013

Ditulis oleh Agustina Wijayani

 

Baca: Mazmur 65

Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu. (Mazmur 65:12a)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 1-3
Saat Alin masih kecil, ibunya menyajikan makan malam berupa telur goreng, saus, dan beberapa kerat roti. Mungkin karena lelah setelah bekerja seharian, ibu Alin memanggang roti sampai gosong. Alin tegang menunggu respon ayahnya. Ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, memolesnya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Ibu Alin meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”

Sebelum tidur, Alin menghampiri ayahnya dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti gosong. Sambil memeluknya, si ayah berkata, “Ibumu sudah lelah bekerja. Lagi pula, kita tidak akan sakit karena memakan roti gosong. Bersyukur saja ia masih bersama kita.”

Hidup kita juga berisi banyak hal yang tak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Saat merenung ke belakang, manakah yang menjadi fokus kita? Bagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?

Sepatutnya kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpahi dan melingkupi kita. Ya, kasih-Nya nyata dalam berbagai aspek kehidupan: dalam pengampunan-Nya yang tak ternilai dan undangan-Nya untuk menikmati damai bersama-Nya (ay. 3-5); dalam penyelamatan-Nya, juga kebajikan dan mukjizat-Nya yang mengikuti kita (ay. 6-9); dalam pintu kesempatan dan mata pencaharian yang Dia sediakan untuk memberi kita kecukupan (ay. 10-14). Sungguh suatu berkat indah yang memahkotai tahun-tahun kita, bukan?—AW

SELAMA JANTUNG KITA MASIH BERDETAK
BERARTI KITA MASIH DAPAT BERSYUKUR MENGHITUNG BERKAT

Sumber : Agustina Wijayani–http://www.renunganharian.net

 

JANGAN TAKUT

Renungan harian : Senin, 31 Desember 2012

Ditulis oleh Elisabeth Chandra

 

 

Baca: Wahyu 1:9-20

“Jangan takut! Akulah Yang Pertama dan Yang Terkemudian, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.  (Wahyu 1:17-18)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 19-22
Menurut Anda, bagaimanakah sosok Allah itu? Sebagian orang mungkin membayangkan sosok seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis. Salah satu teman saya pernah bermimpi buruk karena takut dibuang Allah ke neraka. Sebagian lagi mungkin membayangkan sosok yang simpatik dan bersuara lembut. Seperti gambar Yesus yang sering kita lihat. Tersenyum memangku anak-anak, berbelas kasih pada orang sakit. Mungkin Anda ingin memeluk-Nya begitu berjumpa.

Yohanes bisa memberitahu kita bagaimana rasanya bertemu Yesus sebagai Allah dalam kemuliaan-Nya. Jangankan memberi hormat atau memeluk. Tungkai kakinya mendadak lemas untuk menopang tubuhnya. Ia tersungkur seperti orang mati. Wajah Yesus bagai matahari, mata bagai nyala api, suara bagai desau air bah, tangan memegang bintang, dan mulut mengeluarkan pedang (ayat 14-16). Menggentarkan orang paling berani sekalipun! Namun, dengarlah apa kata-Nya: “Jangan takut!” Pernyataan tentang diri-Nya menjamin bahwa semua ada dalam kendali-Nya (ayat 17-18).

Jangan takut! Allah yang dahsyat itu tidak ingin kita merasa takut pada-Nya. Dia ingin kita berlari mendekat, bukan menjauh dari-Nya. Justru karena Dia dahsyat, Dia ingin kita memercayakan hidup kepada-Nya. Seseorang pernah menghitung bahwa ada 365 kali kata “jangan takut” diulangi dalam Alkitab. Jangan takut menghadapi tiap-tiap hari sepanjang tahun yang terbentang di depan! Jangan takut datang kepada Allah! Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Anda memercayakan hidup pada Allah, apakah yang masih Anda takutkan?—ELS

JANGAN TAKUT!
SEGALA SESUATU DALAM KENDALI ALLAH!

Sumber : Elisabeth Chandra–http://www.renunganharian.net

HOME RUN TO JESUS

Tim Tuhan melawan tim Setan, tim Tuhan mendapat giliran memukul. Score masih kosong-kosong padahal waktu hampir berakhir. Pertandingan berlangsung ketat.

Pemain yang bernama “KASIH” mendapat giliran memukul bola dan berhasil mencapai perhentian (base) pertama, karena “KASIH” tak pernah gagal.

Kemudian giliran “IMAN” yang juga berhasil, karena “IMAN” bekerja bersama-sama “KASIH”.

Setelah itu, giliran “HIKMAT ALLAH” dan ia pun berhasil memukul bola dan lari ke ‘base’.

Namun ketiganya belumlah kembali ke homebase. Kemudian Tuhan pun mengatakan kepada Pelatih, “keluarkan pemain bintang kita.”

Dan masuklah “ANUGERAH” ke lapangan untuk memukul bola.

Setan berkata “Tampangnya tak terlihat hebat.” Tim Setan meremehkannya.

Maka bola pun di lemparkan, “Buuukkkkkkkkk ! O la la, “ANUGERAH” memukul bola lebih keras dari pemain-pemain sebelumnya. “ANUGERAH” memukul bola dengan kerasnya sampai-sampai bola melambung tinggi sekali dan tak terjangkau oleh pemain tim Setan… sampai akhirnya… ‘home run’ !!!

Tim Tuhan menang.

Kemudian Tuhan bertanya kepada Pelatih, sekiranya dia tahu mengapa IMAN, HIKMAT ALLAH dan KASIH dapat mencapai base, namun tidak dapat memenangkan game dan malah ANUGERAH yang melakukannya.

Pelatih menggeleng tidak tahu. Tuhan pun lalu menjelaskan, “Jika kasihmu, imanmu, dan hikmat Allah yang ada padamu berhasil memenangkan pertandingan, maka kau akan berpikir bahwa itu semua karena hasil usahamu sendiri. Kasih, iman dan hikmat Allah mampu membawamu ke base, tapi tidak mampu membawamu pulang (home run), hanya anugerah-Ku yang mampu melakukannya. Hanya anugerah-Ku yang tidak dapat iblis curi”.

Semoga, anugerah Allah melingkupi hari-harimu kawanku… seperti telah senantiasa melingkupi ku… God Bless us all my friends..

Mengucap Syukur

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak kaya…Lalu Dia menunjukkan seorang pria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memiliki siapapun untuk berbagi.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak cantik…Lalu Dia menunjukkan seorang wanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yang buruk.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua…Lalu Dia menujukkan seorang anak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaan mobil.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak memiliki rumah besar…Lalu Dia menunjukkan sebuah keluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja diusir dari rumah yang kecil sesak…dan terpaksa tinggal dijalanan.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku harus bekerja…Lalu Dia menunjukkan seorang pria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun, karena tidak memiliki kesempatan untuk belajar membaca.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak menjadi orang terkenal…Lalu Dia menunjukkan seseorang yang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memiliki harta lagi.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa aku tidak pintar…Lalu Dia menunjukkan seorang yang terlahir jenius, tetapi dipenjara karena menyalahgunakan kepintarannya untuk kejahatan.

Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia begitu sabar dengan orang yang tidak bisa bersyukur seperti aku…Dia lalu menunjukkan AlkitabNya…Dia menunjukkan AnakNya, yang telah mengambil alih tempatku di Kalvari.

Aku tahu sekarang betapa besar Ia mengasihiku…Dan itu cukup bagiku.

I TESALONIKA 5:18’Mengucap syukurlah dalam segala hal,sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.’

 

Mengucap-Syukur-Dalam-Segala-Hal-300x300

KEPALA DAN TUBUH

Renungan Harian Rabu, 26 Desember 2012
Ditulis oleh Jap Sutedja

 

Baca: Kolose 1:15-23

Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. (Kolose 1:18)

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes
Dalam sejarah kerajaan Tiongkok, hukuman pancung merupakan pilihan terbanyak dalam melaksanakan hukuman mati. Memisahkan kepala dari tubuh membuat proses kematian cepat dan pasti. Hanya dalam sulap atau film kartun kita bisa menyaksikan kepala terpisah dari tubuh tanpa harus mati.

Dalam menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya, rasul Paulus menggunakan analogi kepala dan tubuh ini. Kristus adalah kepala, jemaat adalah tubuh-Nya (ayat 18). Mengapa? Karena Kristus adalah gambaran dari Allah sendiri (ayat 15). Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (ayat 16). Segala kepenuhan Allah ada di dalam Dia (ayat 19). Itu artinya, apa yang ada dalam Pribadi Allah, juga dinyatakan dalam Pribadi Yesus Kristus. Untuk dapat hidup berkenan pada Allah, tepatlah jika jemaat meneladani Kristus. Lebih dari itu, Kristuslah yang memungkinkan manusia bisa diperdamaikan dengan Allah (ayat 21-22). Tanpa Kristus, tidak ada orang yang berkenan kepada Allah. Itulah alasan Dia disebut Kepala—oleh karena keutamaan-Nya. Sebagai Kepala, Kristus berhak memimpin dan mengarahkan jemaat-Nya.

Bagaimanakah selama ini kita menempatkan Kristus dalam kehidupan pribadi maupun berjemaat? Ketika kita lebih mementingkan aktivitas rohani daripada membangun karakter sesuai firman Tuhan, Kristus sedang tidak diutamakan. Ketika pengharapan Injil digantikan oleh pengharapan atas kekuatan sendiri, Kristus telah digeser dari tempat-Nya. Tanpa kepala, tubuh mati. Tanpa Kristus, tidaklah mungkin komunitas orang percaya dapat tetap hidup berkenan kepada Allah. Apakah Kristus adalah “Kepala” dalam kehidupan Anda?—JAP

JIKA TUBUH TIDAK LAGI TAAT PADA KEPALA,
KEMUNGKINAN TUBUH SUDAH TERLEPAS DARI KEPALA.

Sumber : Jap Sutedja–http://www.renunganharian.net

NAMANYA YESUS

Renungan Harian Selasa, 25 Desember
Ditulis oleh Joel

 

Baca: Lukas 2:21-24

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)

Bacaan Alkitab Setahun:
2 Petrus; Yudas
Seorang pria bertanya kepada pendetanya, “Apa yang harus saya lakukan agar masuk surga?” Jawaban sang pendeta mengejutkannya, “Anda sudah terlambat. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk bisa masuk surga.” Dengan gelisah ia bertanya, “Apa maksud Anda, Pak Pendeta? Tidakkah ada sesuatu yang bisa saya lakukan?” Pendeta itu menjawab, “Apa yang harus dilakukan untuk masuk surga telah dikerjakan untuk Anda oleh Yesus, dua ribu tahun silam. Yang perlu Anda lakukan sekarang hanyalah menerima apa yang telah Dia kerjakan bagi Anda. Tidak ada yang bisa Anda tambahkan lagi.”

Nama Yesus berarti “Allah menyelamatkan”. Dan sesuai nama yang diberikan sebelum kelahiran-Nya (lihat Matius 1:21), Dia memang datang ke dalam dunia sebagai jalan keselamatan yang disediakan Allah sendiri. Yesus tidak datang untuk merintis sebuah agama atau membangun sebuah tradisi. Dia datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dia juga disebut Kristus (lihat ayat 11), yang berarti Sang Mesias, Yang Diurapi. Dia disebut Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Yang terbaik dari Natal adalah Yesus. Sia-sialah segala perayaan tanpa kehadiran-Nya. Melalui kelahiran Yesus, kita mendengar Allah berkata: “Anakku, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk membereskan masalahmu. Sebab itu, Aku sendiri yang akan menolongmu. Aku datang untuk menggantikan rasa frustrasimu dengan kedamaian, kesalahan-kesalahanmu dengan pengampunan, kegelisahanmu dengan pengharapan yang pasti. Maukah engkau memercayai-Ku sepenuhnya?” Bagaimana kita meresponi kasih karunia-Nya ini?—JOE

TIDAK ADA USAHA YANG DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA ALLAH.
YANG DAPAT KITA LAKUKAN ADALAH MENERIMA ANUGERAH-NYA.

Sumber : Joe-http://www.renunganharian.net

USAHA YANG KELIRU

Baca: 2 Petrus 1:1-11

Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh … (2 Petrus 1:3)

Bacaan Alkitab Setahun:
2 Timotius
Pernahkah Anda berandai-andai bahwa hidup Anda akan lebih baik jika hal tertentu Anda miliki? Andai aku memiliki pekerjaan tertentu … andai aku punya banyak uang … andai aku menemukan orang yang tepat … andai aku dikaruniai tubuh yang indah … andai jabatanku naik …. Ini adalah pergumulan semua orang. Kita berusaha mencari sesuatu yang akan memenuhkan hidup kita, yang akan menyelamatkan kita dari segala belitan masalah.

Bagaimana kita menanggapi kata Alkitab bahwa segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup sudah dikaruniakan pada kita? (ayat 3). Mungkin itu membuat kita bertanya-tanya. Tuhan, aku sudah lama mengikut-Mu, mengapa aku merasa hidupku masih begini-begini saja? Masalahnya mungkin terletak pada definisi kita tentang hidup. Rasul Petrus menjelaskan bahwa hidup yang berhasil itu tidak ada hubungannya dengan tren dunia, tetapi bagaimana kita dibentuk makin serupa dengan kodrat ilahi (ayat 4). Keberhasilan adalah makin siap menjadi warga kerajaan kekal dari Tuhan sendiri (ayat 11). Dan oleh kasih karunia Tuhan, semua yang kita butuhkan untuk itu telah disediakan di dalam Yesus Kristus (ayat 2-3). Yesus membebaskan kita dari dosa, dan memungkinkan kita mengejar hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup ini (ayat 5-9).

Mungkinkah selama ini kita mencari “Juru Selamat” di tempat yang keliru? Kita mencarinya dalam pekerjaan kita, dalam diri pasangan kita atau sosok pemimpin kita, dalam kepemilikan harta benda kita, dalam pencapaian, bahkan dalam kecanduan kita. Segala sesuatu telah disediakan Allah di dalam Kristus, Sang Juru Selamat dunia. Sudahkah Anda datang kepada-Nya?—JOE

SEGALA YANG DIBUTUHKAN UNTUK HIDUP YANG BERHASIL
TELAH DISEDIAKAN ALLAH DI DALAM YESUS, JURU SELAMAT DUNIA.

Sumber : Joel-http://www.renunganharian.net

618-me-and-jesus-is-enough