NAMANYA YESUS

Renungan Harian Selasa, 25 Desember
Ditulis oleh Joel

 

Baca: Lukas 2:21-24

Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)

Bacaan Alkitab Setahun:
2 Petrus; Yudas
Seorang pria bertanya kepada pendetanya, “Apa yang harus saya lakukan agar masuk surga?” Jawaban sang pendeta mengejutkannya, “Anda sudah terlambat. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk bisa masuk surga.” Dengan gelisah ia bertanya, “Apa maksud Anda, Pak Pendeta? Tidakkah ada sesuatu yang bisa saya lakukan?” Pendeta itu menjawab, “Apa yang harus dilakukan untuk masuk surga telah dikerjakan untuk Anda oleh Yesus, dua ribu tahun silam. Yang perlu Anda lakukan sekarang hanyalah menerima apa yang telah Dia kerjakan bagi Anda. Tidak ada yang bisa Anda tambahkan lagi.”

Nama Yesus berarti “Allah menyelamatkan”. Dan sesuai nama yang diberikan sebelum kelahiran-Nya (lihat Matius 1:21), Dia memang datang ke dalam dunia sebagai jalan keselamatan yang disediakan Allah sendiri. Yesus tidak datang untuk merintis sebuah agama atau membangun sebuah tradisi. Dia datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dia juga disebut Kristus (lihat ayat 11), yang berarti Sang Mesias, Yang Diurapi. Dia disebut Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Yang terbaik dari Natal adalah Yesus. Sia-sialah segala perayaan tanpa kehadiran-Nya. Melalui kelahiran Yesus, kita mendengar Allah berkata: “Anakku, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk membereskan masalahmu. Sebab itu, Aku sendiri yang akan menolongmu. Aku datang untuk menggantikan rasa frustrasimu dengan kedamaian, kesalahan-kesalahanmu dengan pengampunan, kegelisahanmu dengan pengharapan yang pasti. Maukah engkau memercayai-Ku sepenuhnya?” Bagaimana kita meresponi kasih karunia-Nya ini?—JOE

TIDAK ADA USAHA YANG DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA ALLAH.
YANG DAPAT KITA LAKUKAN ADALAH MENERIMA ANUGERAH-NYA.

Sumber : Joe-http://www.renunganharian.net

Bahan Renungan Penyambut Natal

———————————————————————————————————————————————————————-

Seorang anak kecil menanggapi Natal :

“Ma…ma…ma bentar lagi Natalan, adek hadiahnya taun ini kudu lebih keren dari taun lalu yah”

Seorang Remaja menanggapi Natal :

“Weh…bentar lagi Natalan neh. Besok ke gereja pas perayaan bawa pacar akh”

Seorang Pemuda menanggapi Natal :

“Fyuh…sibuk banged neh gua udah masuk Desember pelayanan digenjot terus.”

Bapak-bapak menanggapi Natal :

“Buat perayaan Natal butuh dana banyak neh, mulai nyari-nyari sponsor neh”

Ibu-Ibu menanggapi Natal :

“Udah mau masuk Desember neh, belanja baju ma makanan dech buat persiapan Natalan ntar”

———————————————————————————————————————————————————————-

Sekilas cara tiap-tiap generasi ini menanggapi Ntal emang beda, tapi ada satu presepsi yang menyamakan mereka

“Natal itu waktu Tuhan Yesus lahir kedunia sebagai “BAYI” yang lucu dan lahirnya dikandang domba. Dan Dia lahir untuk menebus kita semua”

Kasihan yah, tiap tahun Yesus dirayain sebagai bayi terus. 🙂
Pointnya disini adalah walau sekilas tanggapan setiap generasi ini berbeda-beda, tapi semuanya masih menanggapinya seperti layaknya ank-anak menanggapi Natal.
-Dimana bedanya seorang bapak-bapak yang sibuk berdoa minta dana untuk perayaan Natal dengan seorang anak-anak yang minta hadiah Natal .
-Dimana bedanya seorang remaja yang bawa pacar diibadah Natal, dengan seorang anak yang pamer mainan dengan teman-temannya.
-Dimana bedanya seorang ibu yang membuat seragam natal, dengan seorang anak yang pamer baju baru.
-Dimana bedanya seorang pemuda yang mengeluh karena banyak pelayanan dengan seorang anak-anak yang mengeluh karena tidak dapat hadiah Natal.

Secara tidak sadar kita terjebak dalam sugesti ini,dimana kita masih menanggapi Natal seperti anak-anak.

1 Korintus 3:1-3

Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus.
Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.
Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?

Disini Paulus menyampaikan bahwa orang-orang Korintus belum bisa dikatakan dewasa karena mereka masih hidup secara manusia duniawi. Emang sih kita masih hidup di dunia jadi gemanapun juga kita masih memerlukan hal-hal yang berkaitan dengan daging. Tapi disinilah tuntutanya untuk kita bisa dewasa dalam Tuhan, untuk tidak lagi memikirkan hal-hal duniawi tapi memulai sesuatu lebih ke hal-hal rohani.

Miris kadang tiap kali Natal, yang kita doakan hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan keinginan kita.
“Tuhan, dari Natal tahun ini mudah-mudahan aku mendapatkan jodoh”

“Tuhan, dari Natal tahun ini mudah-mudahan usaha pekerjaanku jauh lebih diberkati”

“Tuhan, dari Natal tahun ini mudah-mudahan aku bisa dapet apa yang aku mau. Semuanya yah Tuhan”

Dimana coba specialnya, Tuhan kita itu pasti bisa mengabulkan apa yang kita doakan. Gak usah nunggu natal kan :D……

Hal yang kadang kita lupa adalah sebuah penyerahan diri dan perubahan kehidup yang baru. Natal adalah sebuah penyerahan Kristus oleh Allah Bapa sebagai penebus. Natal juga sebagai perayaan lahirnya penebus kita, dimana Kristus lahir untuk menebus orang-orang yang berdosa yang tinggal dalam gelap untuk beralih dalam terang yang dari Tuhan.

1. Penyerahan diri 

Sebagai manusia yang dewasa dalam Tuhan…kita perlu belajar menguji hati kita. Hati kita ini udah bener-bener buat Tuhan belum sih. Atau tiap kita pelayanan cuma biar dilirik cewe atau cowo???hehehe 😀
Dalam penyerahan diri, ada sebuah keterbukaan hati untuk diajar, ditegur, diingatkan. Kadang keegoisan kita yang selalu bilang “ini kan gue, gue yah kaya gene” bisa jadi menghambat proses pengujian hati kita. Jadi mulai dari membuka hati untuk ditegur dulu yah…abis itu biar Tuhan lanjutkan sisa-sisa pengujian hati kita. 🙂
Mudah-mudahan Natal tahun ini, kita semua bisa memaknainya dengan penyerahan diri secara all out buat Tuhan.

Mazmur 26:2 Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.

2. Hidup Baru

Percaya, dibaptis, dan jadi orang Kristen keknya masih kurang dech buat bisa disebut anak Allah :). Namanya anak kan pasti mengenal orang tuanya, mengenal Bapanya…iya gak 😉 . Dan bagaimana kita mengenal Bapa kita melalui pribadi Kristus, yah dengan cara kita hidup sejalan dengan Kristus. Emang susah yah buat bisa melakukan yang benar dihadapan Tuhan, tapi yang Tuhan mau adalah buat kita tetap melakukannya walaupun susah Just do it ajah Bro/Sist. Biar Tuhan yang uji usaha kita. Sampai akhirnya kita bakal dapati ada manusia baru yang bersarang dalam diri kita yang so pasti mengenal Tuhan, cz mengikuti teladan Kristus. 🙂

Efesus 4:21-24 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Jadi sebenarnya Natal itu bukan hanya perayaan, tapi sebuah peringatan dimana kita sudah diingatkan akan sebuah hadiah yang paling luar biasa yaitu seorang Penebus. Jadi gak ada salahnya kan kalo mulai dari Natal Tahun ini, kita gak cuma minta mulu, tapimau kasih sesuatu buat Tuhan yang udah menebus kita, yaitu dengan memberika “Hidup Kita” 🙂

SO…selamat menyambut Natal Bro and Sist. 😀 JBU always

Undangan-Natal